Sad Exhibition, Bualan Untuk Orang Yang Merasa Paling

Katanya dunia berputar. Kadang di atas, kadang di bawah.

Kita hidup dengan berbagai rasa. Ada masa kita merasa kurang berharga. Lalu pada masa lain, kita akan merasa gagal, kecewa, sakit hati sampai ingin mati. Akan ada jalan berbatu dan semak belukar yang menghalangi, menimbulkan goresan hingga luka berdarah-darah. Lalu ada masa saat orang-orang membenci sebab kita melakukan hal-hal yang berbeda. Mereka akan mencaci bahkan beberapa menyuruh berhenti.

Katanya dunia menakutkan. Dan hidup begitu bengis.

Kita hidup dalam berbagai kepahitan. Terbelenggu dalam kesulitan yang tak kunjung usai. Banyak pilihan-pilihan menjebak. Ada hal-hal yang terjadi di luar rencana. Akan timbul segala cemas dan khawatir. Lelah dan sepi akan singgah meruntuhkan segala harapan. Serta ada kesedihan yang tak mampu dibendung.

Kita akan melewati semua fase-fase tersebut. Bahkan beberapa dari kita terjebak di dalamnya pada waktu yang sama.

Lucunya, ketika bertemu dalam suatu ruang untuk berbincang, kita berlomba-lomba bercerita. Memaparkan cerita-cerita sedih. Saling berebut dan unjuk gigi untuk terlihat paling menderita. Kita menjadi egosentris. Merasa bahwa orang lain dan masalah kehidupannya bukanlah apa-apa. 

Membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain bukan solusi dari segala kepahitan hidup yang ada. Menjadi pemenang dalam sebuah kisah sedih bukan juga jalan serta jaminan akan mendapatkan perhatian dari orang lain.

Rasanya tidak pantas untuk berlomba terlihat paling menderita. Hidup kita sudah luar biasa. Kita punya masalah kehidupan dan masing-masing sedang berjuang untuk menyelesaikannya satu per satu. Tidak ada yang lebih baik, pun tidak ada yang paling buruk. Apa-apa yang kita terima dan sedang kita hadapi sudah sesuai porsinya.

Kita hadir dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda-beda.

Nanti kalau kita bertemu kembali dalam suatu ruang untuk berbincang, berhenti untuk terlihat menyedihkan dan sangat menderita. Lepaskan ego dan ambisi untuk menjadi pemenang tentang siapa yang paling menderita. Lebih baik kita saling menguatkan. Mari saling memeluk dan mencipta hangat untuk jiwa-jiwa patah lainnya.

Kita hadir dan punya pengalaman yang tak ada bandingannya.

Hidup bukan sebuah kompetisi. Tidak akan ada yang menang atau kalah di antara kita. Sebab, semua yang terjadi sudah tepat. Menangnya kita jika mampu berdamai dengan diri sendiri serta mampu menghargai orang lain dan segala masalahnya. Menangnya kita bukan ketika mendapat predikat paling menderita atau paling menyedihkan di antara yang lain.
.
Yaelah bree, 😅

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.