Kehilangan Rumah
Sahabat bertanya “tidakkah kamu takut akan kehilangan rumah ?”. Seperti biasa saya punya jawab yang
panjang, membingungkan, dan
tak menarik. Sebab saya ingat akan
sebuah sajak Chairil Anwar tentang rumah dan tak-berumah, tentang kepastian dan ketidakpastian.
Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih-cerah dan purnama raya
Sudah itu tempatku tak tentu di mana
Ada kontras yang kentara dalam sajak itu. Rumah yang rapi dan terang itu
adalah kelanjutan dari sebuah riwayat dan sekaligus harapan yang tak bisa
dipenggal. salah satu dari gores yang belum terputus. Tapi pada saat yang sama, di dalamnya ada yang tak permanen. Perubahan yang
drastis, perpindahan yang
tak menentu, juga keresahan dan kepergian, akan dating menyusul: ”Sudah itu tempatku tak tentu di mana’’.
Rasanya tak
kita dengar sebuah keluh dan sesal dalam baris terakhir Chairil Anwar itu. Bagi si ”aku” dalam puisi itu, ketidak-Tentuan adalah sesuatu yang tak tersingkirkan, juga bila ia berada dalam sebuah ruang dengan riwayat
yang intim dan panjang. Sajak
ini mengakui bahwa dalam ketenteraman itu selalu ada yang lain, yang bukan ketenteraman. “Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda’’ itu memang sebuah kosmos alit yang utuh, tapi di dalamnya selalu
terkandung chaos yang tak tampak. ‘’Sekilap pandangan serupa, dua klewang bergeseran’’, tulis Chairil dalam bait berikutnya. Dan pada
akhirnya kita pun terbang
seperti diembus angin, “tak perduli, ke
Bandung, ke Sukabumi...!’’.
Tuan
bertanya tidakkah saya takut akan kehilangan rumah. Saya cenderung bertanya kembali dengan
pertanyaan panjang yang
tak menarik, ‘’apa yang kini tersisa dari lokalitas dan
stabilitasYang pernah ada dahulu? ‘’. Tuan lihat “kini begitu banyak orang digusur, begitu banyak orang mengungsi”. Saya sering dengar ajaran yang mengibaratkan manusia sebagai tanaman, “punya petak, punya letak, punya akar’’. “Akar” jadi hal yang
mustahak. Seorang penulis pernah
mengutip Heidegger yang bertanya, “Masih adakah rumah yang memupuk akar, di mana
manusia selamanya berdiri... dalam keadaan bodenständig?’’.
Heidegger, pemikir ini dengan nostalgia seorang Jerman tua bisa dengan
terharu bicara tentang sebuah rumah petani abad ke-19 di Hutan Hitam di dekat
Freibourg. ia memang salah satu suara abad ke-20 yang menyaksikan teknologi
dengan cemas, salah satu kritik murung Eropa yang letih oleh kemajuan. Dalam ceramah memperingati 175 tahun kelahiran komponis
Conradin Kreutzer, Heidegger
menunjuk bahwa teknologi secara hakiki mengancam “keberakaran manusia di hari ini”. Di tempat lain
di masa lain, Gaston Bachelard juga
menyesali perkembangan Paris yang
mengubah ruang jadi mandul di
kota itu, kata penulis La Poetique
de l’epace ini, ‘’Rumah tinggal telah jadi sekadar horizontalitas”.
Namun kritik
kepada modernitas -dalam
arti dorongan menaklukkan alam dan
menjadikannya ruang tanpa kedalaman- tak sepenuhnya menjawab, benarkah “akar” begitu sentral dalam hidup manusia. Tidakkah teknologi
memberikan sesuatu yang lain,
yakni kemerdekaan?
Dalam hal
ini Chairil Anwar bisa mengejutkan dan sekaligus fasih. Dalam sebuah sajaknya yang lain ia -merasa terimpit di sebuah ruang yang pasti- menyatakan sebuah alternative :
Kita
terapit, cintaku
Mengecil
diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita
kepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati terbang
Mengenali
gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
-the only
possible non-stop flight
Terbang dan
mengarungi samudra dengan kapal udara maupun laut, menjelajah dengan Internet yang tak bertempat, semua itu dimungkinkan oleh teknologi dan manusia pun bebas membuat “jiwa” jadi “merpati”
yang tak “terapit” dan “mengecil diri”. Kita pun mengarungi keluasan tak henti-henti,
tak takut bila akhirnya kita
tak “mendapat”. Dan rumah pun jadi bagian dari mobilitas, dan arsitektur tak lagi merancang
kastil yang gelap berat,
melainkan konstruksi yang ringan bagaikan kemah pendaki. Atau gubuk para gelandangan dan
bedeng para pengungsi.
Rumah petani
di Hutan Hitam itu akhirnya hanya dalam kenangan. Tapi nostalgia memang sebuah paradoks. ia mendekatkan kita dengan apa yang tak lagi dekat. Mungkin
karena hidup bukanlah sepenuhnya
kehadiran, melainkan juga ketidakhadiran. Rumah -meskipun bukan sebuah puri yang angker- bias merupakan
kehadiran yang membatasi. Tapi bahkan dengan kecenderungannya yang konservatif pun Heidegger
melihat peran Perbatasan sebagai
sebuah awal. “Sebuah perbatasan bukanlah Suatu tempat di mana sesuatu berhenti”, katanya dalam sebuah ceramah untuk satu simposium tentang manusia dan
ruang Pada tahun 1951.
Sebuah perbatasan, katanya, “Adalah dari mana sesuatu memulai geraknya untuk
hadir.” Dengan kata lain, kemerdekaan
itu ada justru di antara ketidakmerdekaan.
Maka apa
arti sebuah rumah, sebenarnya? Sebuah ruang hidup di mana ada kemerdekaan. Ketika rumah
kehilangan sifatnya itu, ia pun jadi
sesuatu yang lain, mungkin sepetak
bumi berpasir hisap yang menyedot kita ke
kematian. Sebab itu rumah -juga
tanah air dan tiap ruang tempat kita mempertautkan diri- adalah sebuah ekspresi dan sekaligus sebuah
rekaman perjalanan penjelajahan.
“Rumahku dari unggun-timbun sajak,” kata sebaris sajak
seorang penyair Belanda yang disadur Chairil Anwar. Pada akhirnya, paradoks itu memang tak
terelakkan. Manusia Berdiri
bertaut dengan bumi, selalu dalam bodenständig, tapi kita tak mungkin terjebak di dalam pot dan petak
tanah. Tak mengherankan bila -meskipun ia menakutkan rusaknya
“akar”- Heidegger juga
mengutip penyair Johann Peter Hebel “Kita Tanaman,
yang... harus bangkit dengan akarnya, dari bumi, jika Ingin berbunga di udara terbuka...”.
Takutkah
saya kehilangan rumah? Bukankah kita akan selalu Kehilangan rumah?