Gelap Terang Harap
Optimisme adalah keyakinan yang kurang-lebih utuh dan konsisten tentang masa depan. Mungkin sebab itu optimisme mengandung sikap yang gagah, tapi itu juga dapat berarti jumawa, dan itu berarti pongah. Sebab sebenarnya tak ada kemampuan dalam diri manusia yang secara konsisten dan utuh menangkap -tak hanya memperkirakan- apa yang akan datang. Bahkan juga apa yang lalu dan yang kini tak dapat sepenuhnya diketahui dan dijadikan dasar bagi tindakan.
Optimisme adalah ibarat iklan rumah yang akan dijual, selalu dengan cahaya terang-benderang, tapi selalu cenderung menyenangkan calon pembeli, maka ditambah ilusi, juga dusta, biarpun sedikit. Maka ada beda yang jauh antara ber-harap dan meng-harap.
Ber-harap berada dalam harapan yang sudah ada. Di sini harapan bukanlah sesuatu yang disengaja dan diniatkan. Dalam ber-harap tersirat sikap yang lebih rendah hati menghadapi ruang dan waktu.
Orang Islam menghubungkannya dengan tawakal. Sebuah konsep yang unik, sebab di situ sekaligus termaktub dua kecenderungan yang sebenarnya bertentangan, pasrah dan tekad. Dalam khazanah agama, tawakal merekatkan kedua kecenderungan itu dalam iman. Jika kita perhatikan benar, agama memang meletakkan harapan di pusat dirinya. Iman menghibur, meskipun sukar, meskipun sunyi. Kita diberi tahu bahwa hidup sebenarnya abadi, dan yang kekal akan datang setelah kematian. Kita diberi tahu tentang Taman Firdaus, atau pencapaian rohani yang akhirnya berarti kebebasan dari kesengsaraan dunia. Bagi agama, tanpa iman, harapan akan mustahil diraih.
~ Pekalongan, 20 Juni 2021