Entah Kenapa Aku Memberi Judul Tulisan Ini ; Kenapa Sih Pada Bunuh Diri (mimpi)? (Sebuah Perspektif)
“Disclaimer: Tidak ada yang tahu pasti
apa yang dipikirkan oleh pelaku bunuh diri. Ini adalah sebuah opini pribadi.”
Bagaimana jika bunuh diri tidak hanya disebabkan oleh depresi — tapi justru kondisi dimana seseorang sudah tidak mencapai semua tujuan hidupnya? Setelah melewati banyak masa sulit, mencapai cita-cita — bebas finansial, keliling dunia, dan sudah; tidak ada keinginan lagi karena semua sudah dilakukan.
“Okay, I’m done here. Bye folks!”
Baiklah. Pasti banyak yang tidak setuju tentang teori ini,
karena memang rata-rata orang “belum selesai” dengan hidupnya. Masa
hidup kita terlalu pendek untuk bisa meraih segala mimpi yang ingin kita capai.
Tapi mungkin justru inilah yang membuat kita tetap “hidup”.
Akuilah -
banyak orang tua yang - selalu ingin anak-anaknya selalu menjadi lebih baik dari dirinya. Seorang pengusaha, ingin
anaknya menjadi pengusaha yang lebih sukses dari dia. Seorang dokter ingin
anaknya menjadi dokter yang lebih baik dari dia.
Kenapa? Karena ada hal-hal yang kita sesali telah kita
lakukan dulu, dan hal-hal yang kita sesalkan karena tidak kita lakukan. Kita
ingin menjadi lebih baik, tapi waktu kita terbatas; makanya kita ingin anak
kita yang menggantikannya.
Disini, musuh kita adalah waktu hidup yang terbatas.
Tapi, apa yang terjadi ketika kita bisa hidup selama kita
bisa? Beberapa orang yang saya ajak diskusi tentang kemungkinan hidup abadi —
respon mereka rata-rata adalah:
“Emang buat apa hidup selama itu?”
“Aku nggak yakin aku mau hidup sampai ratusan tahun
lamanya”
Anehnya, orang-orang yang menjawab ini adalah juga yang
mengucapkan “aku pingin anakku jadi xxx karena aku nggak kesampaian xxx”.
Kenapa? Bukankah dengan hidup selama kamu mau, maka kamu bisa mencapai xxx itu
tanpa harus membebani anakmu yang mungkin punya cita-cita dan cara hidup yang
berbeda?
Kondisi ini — menurut opini saya — memberi bukti tentang
teori bahwa beberapa (atau bahkan kebanyakan) orang sebenarnya memiliki pemikiran
“I’ll be out after I’m done with my things” — hanya saja masa hidup
manusia sekarang masih terlalu pendek saja dibandingkan waktu yang dibutuhkan
untuk menuntaskan segala tujuan hidup mereka.
Ketika setiap orang punya waktu hidup lebih lama dibandingkan
waktu yang mereka butuhkan untuk mencapai cita-citanya, lalu apa? Untuk apa
lagi orang ini hidup? They no longer have any purpose in life.
And this is dangerous.
Tapi tunggu. Berbahaya untuk siapa? Sebenarnya ketika orang
bunuh diri, yang rugi siapa sih? Ketika terlepas dari agama / afterlife
theory — yang rugi kan ya anak-anaknya, pacar / istri / suaminya,
dan orang-orang terdekatnya saja kan. Atau kalau itu selebriti, maka para fans
nya yang rugi karena ngga bisa lagi menikmati karyanya. Orang yang bunuh diri;
ya sudah selesai— nggak bakal ngerasain apa-apa.
Lalu bagaimana agar kita bisa mencegah orang-orang (atau
bahkan kita sendiri) ini untuk punya pemikiran bunuh diri? Saya sendiri tidak
pasti jawabannya. Tapi satu hal yang pasti menurut opini saya adalah; ketika
seseorang masih “belum selesai’’ — ketika dia belum mendapatkan semua yang dia inginkan, maka
lebih kecil kemungkinan dia “keluar”.
Hidup harus punya tujuan, dan jangan sampai tujuan itu
adalah sesuatu yang statis dan setelah dicapai — ya sudah. Make it as a
moving target. Kalau itu Thanos, mungkin saja dia menyikapi “ya sudah”nya
dengan bertani di Bali. Tapi lain orang, lain cerita.
Atau cara lain adalah menganggap bahwa perjalanan itulah
tujuan hidup kita. Bahasa Pantura-nya:
The Journey is the Destination.
Perjalanan kita memenuhi tujuan hidup adalah tujuan kita.
Tidak ada komentar: