Seandainya Kita Bisa Hidup Selamanya

Btw ngomongin tentang hidup abadi; mungkin ide ini terdengar sangat asing dan tidak masuk akal. Tapi sebenarnya konsep ini sudah sejak dulu ada. Dalam film, tentunya generasi awal 2000-an mengenal Duncan Macleod di serial Highlander. Dalam banyak agama, dikenal tentang konsep kehidupan setelah kematian — yang bukankah ini artinya kita akan hidup selamanya? Atau konsep reinkarnasi — bahwa jiwa adalah recycleable matters yang sambung menyambung, hanya berpindah raga.


Oke tapi yang saya maksud adalah kehidupan yang ada sekarang. Saat ini. Bukan “kehidupan setelah kematian”, atau “jiwa yang berpindah raga”. Saya bicara tentang tubuh yang menyangga kepala yang menjadi tumpuan mata kamu yang sedang membaca paragraf ini. Tentang otak yang mencerna tulisan ini. Bagaimana jika kamu bisa hidup selamanya?

 

(Sebenarnya ini harus ada grafiknya, tapi lupa kemarin bacanya dimana) Sejarah mencatat bahwa angka rata-rata harapan hidup manusia itu stagnan selama beberapa milenia, dan naik drastis secara eksponensial baru satu-dua abad yang lalu. Penyebabnya? Mulai dikenal sanitasi — air bersih, bahaya bakteri dan ditemukannya penicillin oleh Alexander Fleming; yang menjadi salah satu tonggak dunia medis modern.


Melihat grafik yang ada – yang pernah aku baca -, tidak terlihat tanda-tanda bahwa kenaikan angka harapan hidup itu bakal melambat. Setiap tahun, ada saja temuan dunia medis yang berhasil membuat manusia hidup lebih panjang.


Kalau diteruskan grafiknya, dipekirakan manusia akan menjadi abadi di tahun 2045.


Oh kamu kira saya bercanda?


Ada buanyak perusahaan dan ilmuwan diluar sana yang punya misi yang sama: memperpanjang masa hidup manusia, selama-lamanya.


Ada Calico yang dimiliki Alphabet — holdingnya Google. Jeff Bezos dari Amason juga ikutan mendanai Unity Biotechnology yang mempunyai misi melawan penyakit “menjadi tua”. Kalau ditarik mundur; mungkin awal gerakan ini diawali oleh Ray Kurzweil — dari artikel ini.


Thesis mereka sama; bahwa “kematian” adalah sebuah penyakit. Dan layaknya penyakit, maka kita perlu menemukan obatnya. Toh dulu sebelum antibiotik ditemukan, umur rata-rata manusia cuman 30-an tahun. Harapan hidup sekarang udah nambah lebih dari 2x lipatnya dari jaman itu. Kenapa nggak lanjut 4x lipat, atau bahkan 100x lipatnya?


Okay. Terlepas dari perdebatan mungkin atau tidaknya manusia hidup abadi — mari kita berandai-andai bahwa hal ini benar akan terjadi. Lalu pertanyaan berikutnya; bagaimana kita menyikapi “bunuh diri” di masa depan ini?


Perlukah kita mati kalau kita bisa hidup selamanya?


Oy bro — ngga ada bahasan lain apa selain ngomongin kematian? (mungkin sebagian kamu bakal berpikir gini :D)


Jujur setelah nulis paragraf di atas; saya berhenti sebentar, trus nutup laptop. Lalu artikel ini nongkrong di draft selama 4 jam. Tapi, kepalang tanggung — udah terlanjur diketik di blogger ini; jadi ya diterusin saja.


Dengan teori bahwa ada pemikiran “I’ll be out of my life after I’m done with my things” pasti bakalan lebih banyak orang yang bakal bunuh diri karena mereka merasa sudah “cukup” dengan dunianya. Dan menurut saya — kita harus lebih menghargai pilihan mereka, selama tidak ada yang dirugikan. Sama dengan kita seharusnya lebih menghargai agama dan kepercayaan orang lain. Atau preferensi seksual. Atau orientasi gender.


Bayangkan ini adalah tahun 2718. Teman sekolahmu dulu yang juga bersahabat baik dengan cucumu, mengirimkan sebuah surat undangan selebrasi “Hari Kematian”. Dia sudah hidup selama lebih dari 700 tahun, dan merasa sudah cukup berada di dunia ini. Segala keinginannya sudah tercapai. Dia ingin istirahat selama-lamanya, dan di hari tersebut dia akan melakukan eutanasia. Akan diadakan pesta kebun kecil-kecilan, untuk ketemu teman-teman terdekatnya buat yang terakhir kalinya.


Apakah kamu sedih, atau bahagia?


For me; I’ll be sad by his death, but I’ll celebrate the life he already had, and be more happy about it.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.