Masih Tentang Hujan, Yang Tak Sengaja Membawa Pilu
Pada hujan yang deras itu, perempuan bergaun biru bergegas keluar rumah. Ia membuka payung pilu bersamaan dengan jatuhnya rintik hujan di luar. Sudah tidak ada kehangatan yang ia rasakan di dalam perapiannya. Ia hanya ingin bermain di bawah payung pilunya dengan mengenakan gaun birunya.
Maka berteriaklah ia di tengah derasnya hujan itu. Yang kemudian disambut gelegar tawa dari sang petir. Namun perempuan bergaun biru itu tidak gentar. Menangislah ia dibawah teduh payung pilunya.
Ia pun menangis sejadi-jadinya. Sekencang-kencangnya. Seakan menantang petir untuk segera menyambar hidupnya yang sudah getir. Dirapatkan tubuhnya pada payung pilunya, namun tetap saja gaun biru kesayangannya basah terkena hujan.
Ia hanya ingin bermain hujan dan menangis semalaman. Hingga air mata membawa segala pahitnya kehidupan dan meluruh bersamaan dengan hujan.
Betapa ngilunya kehidupan yang ia jalani. Hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat karena tidak mampu menopang beban seorang diri. Ia ingin bercerita kepada kawan. Namun tidak tahu harus memulai dari mana.
Satu-satunya jalan adalah bercerita kepada hujan malam itu, yang membasahi seluruh kota yang ramai jika terang. Ketika hujan lebat begini, penduduk lebih memilih tinggal di dalam rumah, menghangatkan diri di depan perapian.
Mereka tidak terlalu suka dengan hujan. Kota pun menjadi sepi. Hanya menyisakan perempuan berpayung pilu. Ia dapat bercerita, berteriak, menangis, tersedu kepada hujan, tanpa khawatir orang-orang akan mendengarnya. Karena suaranya tentu akan kalah dengan derasnya hujan, dan gemuruh petir yang menyambar.
Terjatuhlah ia di atas tanah. Suaranya telah habis. Tangisnya mengering menyatu dengan hujan. Ia hanya ingin meluruh, hanyut hingga ke samudra bersama genangan air sisa hujan semalam.
Perempuan bergaun biru itu terkulai lemas, matanya sembab, badannya kisut kedinginan, payung pilunya terbang bersama kesedihan yang dipendamnya selama ini.
.
Kopmer Listrik Padam, Hujan Rintik Penuh Pilu
Tidak ada komentar: