Dari Lerespati Ke Kemis Legi, Catatan Sangat Pendek Untuk Sebuah Proses Yang Sebentar Saja, - Belum

Rasanya, waktu itu – ini sudut pandang pembaca sih, aku nulisnya yaa “sekarang ini” – saat langit sedang mendung ketika saya sedang diam merenung di pojok kedai kopi daerah sorowajan, sendirian berjam-jam. Pikiran sedang kacau. Dilema berkemelut di dalam hati tentang apa yang harus saya lakukan saat ini, untuk nanti.

Pengunjung kedai lalu lalang, langit yang tadinya mendung, tak mampu menahan air yang dikandungnya, dan hujan lebat berteriak kencang ditahan barisan atap seng itu, nampaknya hujan pengen sekali menghujamku dengan deraian air dinginya itu.

Saya lalu memejamkan mata dengan penuh konsentrasi. Satu detik kemudian, semua dilema dan kemelut hilang tanpa bekas . Dengan mengepalkan tangan, dengan mengambil napas yang dalam, saya berdiri tegak dengan pasti seraya berkata dalam hati:

 

“Cukup. Sudah saatnya saya berani menjadi diri saya sendiri”

 

Tidak terasa sudah 5 tahun lamanya sejak kejadian itu – dan membuatku sekarang ada disini, dijogja dengan orang baru yang setiap hari silih berganti kutemui -terjadi. Salah satu momen yang paling membuatku struggling dan paling Apalah ya, aku sedang tidak mau meromansakan kejadian sedih itu dalam bentuk kata yang nampak indah -  dalam kehidupan saya pribadi; Ketika saya memutuskan untuk mengurungkan beberapa mimpi demi menjadiYa gatau juga mau jadi apa nanti-.

Banyak orang yang bilang saya gila karena meninggalkan kuliah dari Universitas ternama di Eighypth demi menjadi seseorang yang gatau sekarang ini mau nagapain selain merampungkan tulisan ini -.

 

Ya, jika dipikirkan dengan logika memang tidak akan pernah bertemu ujungnya.

 

Tapi buat saya, keputusan ini bukanlah tentang logika semata. Keputusan ini adalah simbol dari kebebasan yang selama ini tidak bisa saya rasakan, dan menjadi sebuah langkah awal dari mimpi yang saya punya untuk masa depan.

Keputusan ini adalah wujud dari keberanian menjadi diri sendiri.

Sejak kecil sampai kuliah, bisa dibilang saya adalah orang yangbisa dibilang - tidak mempunyai pendirian. Saya selalu bergerak berdasarkan orang lainyang aku maksud adalah keluargaku sendiri, bukan apa-apa si, gamau menyalahkan siapapun di keluargaku, apalagi diriku sendiri -, menuruti apa yang mereka mau sambil meredam apa yang saya inginkanentah kenapa semenjak kejadian itu sampai sekarang ini, aku selalu berprinsip :

 

Cita Dan Asa Harus Didasarkan Pada Social Rule, Jangan Self Obsession, Setidaknya Itu Lebih Mulia”

 

Hasilnya? Saya menjadi tidak percaya diri dan selalu merasa tidak punya kemampuan yang mumpuni. Rasa takut gagal selalu menghantui, tidak berani mengambil risiko yang padahal bisa menjadi jalan untuk wujudkan mimpiya seenggaknya itu beberapa keputusan krusial saja sih, ga semuanya -.

Tapi kemudian semua itu menjadi tiba-tiba kabur ketika saya duduk di kedai ini, membuka sebuah buku kecil yang sudah usang karangan Paul Arden sambil berharap menemukan sebuah jawaban dari dilema yang saya punya: Apakah saya harus selalu menuruti kemauan orang lain, atau mulai berani menjadi diri sendiri?

Bagaikan sebuah tanda dari Tuhan, jawaban dari dilema yang saya punya kemudian datang dalam sebuah cerita:

 

“Seorang pemuda bekerja sebagai pembawa pesan di sebuah perusahaan periklanan. Suatu hari ia berkata pada manajernya, “Saya keluar. Saya akan menjadi seorang drummer.”

Manajernya menyahut, “Saya tidak tahu kamu dapat menabuh drum.”

Ia menjawab, “Sekarang memang tidak, tetapi saya akan menjadi seorang drummer.”

Beberapa tahun kemudian pemuda itu bermain musik bersama Eric Clapton dan Jack Bruce, di sebuah band yang disebut Cream, dan nama pemuda itu adalah Ginger Baker.

He became what he wanted to become before he knew he could do it.

Ia mempunyai tujuan.

 

*Ya, ceritanya tidak sama persis dengan apa yang sedang saya alami sih :).

 

 

Menghadapi Realita Dunia Nyata

 

Sebut saja saya lugu, tapi sedari dulu saya memang percaya bahwa saya bisa mewujudkan mimpi dengan hanya bermodalkan semangat saja. Dan tentu saja, realita dunia nyata menghantam saya dengan begitu keras.

Tidak dipungkiri, rasa takut gagal selalu menghantui ketika saya memutuskan untuk mulai berani menjadi diri sendiri. Sumbernya manusiawi, yaitu ketika saya membandingkan kemampuan diri sendiri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Apalagi pada saat itu saya benar-benar tidak memiliki skill dan kemampuan yang mumpuni.

Jika dianalogikan, saya adalah laptop jadul yang sudah usang sedangkan orang lain adalah laptop paling trendi dengan performa terbaik yang dihadirkan oleh MSI dibawah ini:

Ya, saya adalah sebuah notebook jadul nan usang yang sudah lewat masa kejayaannya. Kecil, lambat, dan tidak menarik perhatian. Saya bukanlah apa-apa dibandingkan orang-orang yang lebih muda dan sudah punya skill dan pencapaian yang bisa dibanggakan.

Jika saya hanya mempunyai prosesor yang lambat, MSI Raider GE66 12UHS 290ID ini sudah menggunakan 10th Gen Intel Core yang hemat daya yang memberikan performa terbaik dalam kelasnya. Orang lain sudah bisa ‘mengarungi’ dunia design dengan mudah dan sangat cepat dengan dukungan prosesor 10th Gen Intel Core ini, sedangkan saya harus mengeluarkan seluruh tenaga hanya untuk bergerak sedikit saja.

Jika saya tidak memiliki fitur apapun yang menjual, MSI Raider GE66 12UHS 290ID ini punya fitur-fitur premium nan kece, mulai teknologi fast charging, backlit keyboard, hingga fitur login dengan Windows Hello yang memanfaatkan sensor sidik jari yang tersedia di atas laptop.

Fitur-fitur ini melambangkan sertifikat, pelatihan, dan portofolio design grafis yang orang lain punya. Buat saya yang belum pernah – merasa – berjuang, bekerja dan berusaha dan hanya bermodalkan semangat semata, jelas kalah telak.

 

Manusiawi ga sih jika saya merasa minder?

 

Apalagi kalau berbicara soal penampilan, sudahlah, jangan ditanya. Saya hanyalah sebuah laptop yang usang yang penuh dengan cacat dengan bentuk alakadarnya, sedangkan orang lain adalah MSI Raider GE66 12UHS 290ID berlayar 15 inch, berbodi mulus dengan teknologi NanoEdge Display dan punya 4 tampilan warna yang trendi; Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver dan Resolute Red. Sudah jelas bukan mana yang lebih menarik mata?

Ya, jika dilihat dari segi manapun juga, mustahil rasanya laptop jadul dan usang seperti saya bisa menang melawan MSI Raider GE66 12UHS 290ID yang juara dalam segala bidang. Tapi apakah saya kemudian mengurungkan niat untuk mengejar mimpi menjadi Apa ya?

Oh, jelas tidak.

Sejak saat saya pergi dari rumah, saya sudah memutuskan untuk tidak pernah takut dan selalu berani menjadi diri sendiri apapun yang terjadi. Melihat orang lain yang lebih sukses sudah menjadi realita yang harus saya hadapi. Saya kemudian menyadari satu hal yang penting dan bisa mendorong saya mencapai titik yang sama seperti mereka:

 

Saya, bukanlah sebuah mesin laptop yang bisa digerus teknologi.

 

Saya adalah seorang manusia, yang selalu bisa belajar, berkembang, serta mengasah skill dan kemampuan untuk menjadi apapun yang saya inginkan. Saya memiliki bakat dan potensi, yang jika dikembangkan dengan serius pasti akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Takut gagal itu manusiawi, tapi jangan sampai lupa kalau kita sedang mengejar mimpi yang jelas membutuhkan proses jatuh bangun berkali-kali. Karena itu, lebih baik saya fokus belajar dan terus berlatih daripada membandingkan diri dengan apa yang orang lain miliki.

 

Inilah esensi dari berani menjadi diri sendiri.

Bagaimana kita menempa diri,

Bagaimana kita belajar dan berlatih setiap hari,

Bagaimana kita menghadapi tantangan dan rintangan dengan segala kekurangan yang kita miliki.

 

Saya sadar kalau saya adalah laptop tua yang sudah usang. Tapi kembali lagi, saya bukanlah sebuah mesin yang bisa digerus oleh teknologi. Dengan kerja keras dan usaha tanpa henti, saya sangat yakin bisa bertransformasi menjadi seperti laptop MSI Raider GE66 12UHS 290ID yang punya performa mumpuni tanpa harus kehilangan jati diri. Saya yakin, haqqul yaqin.

Hehe, maafkan jika saya terdengar seperti meracau dalam tulisan ini, dengan motivasi usang yang sedari dulu aku juga udah tahu.

Mimpi dan menjadi diri sendiri memang selalu menjadi topik yang membuat saya semangat sekaligus emosional. Dua hal inilah yang membuat saya bangun setiap pagi, melakukan apapun yang bisa terus mengasah potensi diri, sambil berharap akan ada banyak orang yang mendengar dan melihat apa yang saya kerjakan dengan penuh semangat dan cinta.

 

Saya bermimpi menjadi.........

Saya bermimpi menjadi ..........

Saya bermimpi menjadi ..........

 

Tidak peduli seberapa lama, tidak peduli seberapa jauh, dan tidak peduli seberapa banyak pelajaran dan latihan yang harus saya lakukan, saya harus bisa mewujudkan mimpi tersebut dengan segala keterbatasan yang saya miliki. Saya percaya, berjuang dan berani menjadi diri sendiri adalah keputusan terbaik yang akan kita ambil selama hidup ini:

 

“Anything worth having doesn’t come easy”

 

Saya tidak tahu kapan dan bagaimana hasilnya nanti. Tapi yang jelas, saya tidak akan pernah berhenti berjuang demi mimpi yang saya miliki ini.

 

Heyy, Malu-Maluin Ga Sih Gua, Di Umur Segini Masi Aja Nulis Dan Mikir Hal Jinjay Ini ?

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.