Antara Saya Dan Tulisan — Tak Jelas — Saya, Sebuah Perjalanan Diri
Sudah lama saya tidak menyapa dan berbagi cerita disini. Dan ternyata akhir-akhir ini saya tertarik dengan hal-hal yang berbau batiniah atau hal-hal yang berhubungan dengan diri dan ruh kita.
Nah, ini bukan suatu cerita per-klenik-an yang mungkin seketika Anda melihat dari suatu paragraf pertama :)
Jauh dari itu, mulanya sebenarnya semua berawal dari pikiran
saya yang kalut, penuh, stres, butuh jawaban, tapi malah tidak tahu dimulai
dari pertanyaan yang mana? saking banyaknya yang merindukan. Mungkin
Anda pernah merasakan hal yang sama. Hingga akhirnya saya menjadi lebih
stres, dan hasil pemikiran negatif semakin mudah muncul entah dari mana.
Kalau sudah pikiran negatif yang memenuhi pikiran, akhirnya
muncullah hal-hal saat ini seperti baper-an lah, merasa semua tidak mengerti
saya lah, lama-lama curhat yang cenderung jadi “ngerasani” bahkan jurus
ajian nyinyir pun keluar deh, sampai rasa-rasanya kita paling makhluk benar
sendiri.
Sampai suatu ketika saya dipertemukan oleh seorang - manusia
bukan ya tuh orang, saat ini malah jadi mamang :) - yang saat ini
menjadi teman baik saya. Berawal dari percakapan la la li li, curcol
(namun tak sebegitu mendalam, dan hanya sekilas). Entah mengapa saya
merasakan frekuensi kita sama (lha terus frekuensi yang seperti apa? darimana
bisa tahu? emang bisa dilihat?), oke akan saya jawab satu persatu.
Padahal notabene-nya
suasana tidak mendukung, dan bahkan waktu kita tidak selapang itu. Tapi
dalam percakapan sesingkat itu (kira-kira hanya berlangsung 10 menit), saya
merasa feedback yang saya dapatkan membuat saya plong. Padahal jawaban
yang sesungguhnya dari kekalutan saya belum semua terjawab. Jangankan
terjawab, pertanyaannya saja saya masih bingung.
Awalnya saya cuma bingung dan akhirnya teman saya memberikan
saran-saran dan info yang cukup membuka mata saya. Saran-sarannya
sebenarnya kalau boleh dibilang bukan jawaban, hanya saran-saran sederhana
namun saya merasa terjawabkan semua, nah loh.
Ternyata setelah saya mencoba memahami dengan sedikit perenungan
dan evaluasi, batin dan energi kita lah yang klop. Sehingga pertanyaan
kelutnya pikiran saya terjawab karena saya mendapatkan umpan balik yang tidak
hanya diinginkan oleh pikiran saya namun juga yang lebih penting dibutuhkan
oleh batin saya. Nah ini yang dimaksud sebagai satu frekuensi oleh batin.
Koneksi batin seperti inilah yang mungkin jarang kita temui
dan bahkan bisa kita rasakan.
Saya yakin, benar-benar adanya raga manusia secara fisik ini
merupakan pembatas. Semakin menjadi pembatas dari ruh kita. Dan orang
barat sudah lebih dulu mempelajari kekuatan di bawah pikiran manusia, dan
menyebutnya Pikiran Bawah Sadar atau alam bawah sadar yang sebenarnya itu
adalah batin atau ruh kita.
Dan batin kita memiliki informasi dan intuisi yang luar
biasa yang terkoneksi langsung dengan alam. Maka cara kerja mereka adalah
energi.
Ibarat bensin manusia maka batin atau ruh kita bensinnya
adalah energi.
Saya masih mempelajari ini semua, dan seperti menunaikan
ibadah sholat dengan gerakan rukuk sujud, saya berpandangan ini juga menjadi
suatu media untuk mengumpulkan energi dari alam dan menyatu dengan Sang
Pencipta.
Mohon maaf atas tulisan-tulisan yang mungkin mengandung
metafisika, dan sangat sulit dijangkau sepintas. Namun inilah yang saya
rasakan beberapa hari terakhir ini.
Kembali pada cerita saya di atas yang akhirnya saya
menemukan jawaban yang ternyata adalah “makanan” untuk batin saya. “Koneksi”
saya akhirnya berlanjut menjadi cukup tinggi selepas pertemuan diskusi kedua
saya bersama teman saya. Ia memaparkan bagaimana alam bekerja, apa makna
dibalik setiap percakapan dan pertemuan sebenarnya merupakan rencana yang di
alam, dan Tuhan-lah yang mengatur semua melalui energi alam.
Kalau orang melihat tulisan saya ini hampir pasti ada
sebagian yang berfikir ini sudah berbau paranormal dan, padahal ya tidak
begitu. Sama hal nya seperti olahraga yoga, tanpa gerak jasmani dan
rohani.
Mungkin Anda pernah merasakan “klop” dengan seseorang yang
akhirnya menjadi sahabat Anda, karena memang perbincangan duniawi dan satu frekuensi. Sama
halnya dengan apa yang saya rasakan. Sama halnya seperti Wi-Fi, menemukan
frekuensi yang sama antar manusia melalui batin dan tukar pikiran inilah,
berasal dari energi yang tak kasat mata. Hanya intuisi dan feeling kita
lah yang bisa merasakan energi itu. Dan kalau sudah sinkron feel nya raga
dan jiwa kita sudah 100% berbeda. Ini benar-benar saya rasakan.
Pikiran lebih jelas, seperti frekuensi penanya bertemu
dengan frekuensi pemberi jawaban. Tidak perlu hanya dengan jawaban-jawaban
yang di inginkan dalam pikiran saja, namun juga yang batin memesan.
Jangan Berlanjut,
nanti aja ya kalau aku selesai kuliah, baru semester 2 :).